Sunday, November 21, 2010

cerita mengharukan seorang sahabat

Hellooooo :-)


Postingan kali ini gue mau nulis salahsatu cerita tentang persahabatan yang gue baca dari buku "Chicken Soup for the Teenage Soul II" gue milih cerita ini karena menurut gue hm gimana ya, cerita ini tuh menunjukkan kesetiaan seorang sahabat yang ditolak kehadirannya di keluarga sahabatnya gitulah. Here we goes...


------------------------------------------


"Donna dan Claudia"
by: Carol Gallivan


Donna adalah kakakku, dan aku selalu menganggapnya cantik. Ayah menyebutnya putri raja. Waktu Donna masuk SMU, dengan rambut pirangnya yang panjang dan mata birunya yang indah, ia menarik perhatian para siswa pria. Banyak kejadian: saling naksir dan pesta sekolah, dering telepon dan tawa ria, bersisir rambut selama berjam-jam sehingga rambutnya tampak indah bercahaya. Ia memakai perona mata yang cocok dengan matanya yang biru. Orangtua kami sangat melindungi kami, dan Ayah sangat memperhatikan teman-teman pria yang berkencan dengan Donna.

Pada suatu hari Sabtu di bulan April, tiga minggu menjelang hari ulangtahun Donna yang keenambelas, seorang anak lelaki menelepon dan mengajaknya berkencan di tempat hiburan. Tempat itu di negara bagian lain, sekitar tiga puluh kilometer jauhnya. Mereka akan pergi bersama empat teman lainnya. Jawaban pertama orangtua kami adalah "tidak", tapi Donna akhirnya bisa membujuk mereka. Ketika keluar dari pintu depan, orangtuaku mengingatkannya lagi untuk pulang paling lambat jam sebelas.

Malam itu malam yang hebat! Roller coaster-nya sangat cepat, permainan hiburanny sangat mengasyikan, dan makanannya sangat lezat. Waktu berlalu begitu cepat. Tiba-tiba salah seorang dari mereka menyadari bahw waktu sudah menunjukkan pukul 22:45. Karena masih muda dan takut pada Ayahku, si pemuda yang mengemudikan mobil mengatakan bahwa ia bisa sampai di rumahku dalam waktu limabelas menit. Tidak terpikir oleh mereka untuk menelepon dan minta izin untuk pulang agak terlambat.

Mereka ngebut di jalan raya, sampai-sampai si supir terlambat melihat rambu "keluar". Tapi, ia berusaha membelok juga. Mobil itu menyambar sembilan pagar pengaman dari logam. Dan berguling-guling tiga kali sebelum akhirnya berhenti dengan terbalik. Seseorang menarik Donna keluar dari mobil dan Donna memeriksa teman-temannya yanglain. Darah tampak dimana-mana. Saat Donna menyibakkan rambut yang menutupi matanya, tangannya tergelincir mengenai kulit kepalanya.

Darah mengalir dari kepalanya. Hampir seluruh kulit kepala Donna terlepas, hanya tertahan oleh beberapa sentimeter kuit saja.

Mobil polisi segera tiba di tempat kecelakaan, dan melarikan Donna ke rumah sakit. Seorang polisi duduk di dekatnya, sambil terus memegangi kuli kepalanya agar tidak lepas. Donna bertanya apakah dia akan mati. Polisi itu menjawab tidak tahu.

Di rumah, aku sedang menonton TV ketika ada perasaan tak enak merayapi hatiku, dan aku teringat pada Donna. Beberapa menit berlalu, lalu telepon berdering. Ibu mengangkatnya. Ibu meraung keras, dan terduduk ke lantai, memanggil ayahku. Mereka bergegas pergi dan memberitahu aku dan kakakku Teri bahwa Donna mengalami kecelakaan mobil, dan mereka akan ke rumah sakit untuk menjemputnya. Selama berjam-jam, Teri dan aku menunggu mereka pulang. Kami mengganti seprai tempat tidur Donna dan menunggu. Sekitar pukul empat pagi, kami memasang tempat tidur sofa dan tidur disitu bersama-sama.

Ayah dan Ibu tidak siap melihat apa yang mereka saksikan di rumahsakit. Para dokter harus menunggu sampai orangtuaku tiba sebelum mulai menjahit kepala Donna. Mereka tidak berharap Donna bisa bertahan malam itu.

Pada pukul 7 pagi orangtuaku pulang. Teri masih tidur. Ibu langsung masuk ke kamarnya. Sedangkan Ayah ke dapur lalu duduk di kursi makan. Ia memegang kantong sampah plastik berwarna putih diantara kedua kakinya. Dibukanya kantong tersebut saat aku duduk didekatnya. Aku menanyakan keadaan Donna, dan Ayah menjawab bahwa dokter sudah putus harapan. Aku masih mencerna kata-kata Ayah, sementara Ayah mengeluarkan pakaian Donna dari dalam kantong plastik tersebut. Pakaian itu bersimbah darah dan rambut Donna yang pirang.

Diantara rambut itu ada yang masih menempel pada kulit rambut Donna. Semua pakaian yang dipakai Donna pada malam itu bersimbah darah. Pikiranku hampa. Aku hanya bisa menatap pakaian itu. Waktu Teri bangun, kutunjukkan pakaian itu padanya. Aku tahu hal itu sangat mengerikan, tapi aku tak bisa berpikir jernih saat itu.

Pada pagi harinya di rumahsakit, aku dan Teri harus menunggu lama diluar sebelum akhirnya boleh menjenguk Donna. Bangunan rumahsakit itu tua, dan baunya juga tidak enak. Teri dan aku merasa takut. Akhirnya kami diizinkan juga menemui kakak kami. Kepalanya dibungkus perban yang bernoda darah. Wajahnya bengkak, dan aku tak mengerti karena bukankah ia kehilangan banyak darah? Aku menyangka ia akan lebih kurus. Donna mengulurkan tangan dan membelai rambut panjangku yang berwarna cokelat, dan ia pun menangis.

Keesokan harinya aku menelepon seorang tetangga yang juga jadi tukang potong rambut, dan meintanya memotong rambutku. Lucu juga--aku suka rabut cokelatku yang panjang dan ikal indah, tapi aku tak menginginkannya lagi. Yang kuinginkan hanyalah Donna segera pulang dan tidue di tempat tidurnya sendiri yang seprainya bersih, dipasang olehku dan Teri.

Donna diopname selama dua minggu. Banyak temannya yang menengok, terutama Claudia, yang paling sering datang. Orangtuaku tidak menyukai Claudia--mungkin karena ia tampak "cepat", mungkin karena ia bicara apa adanya; aku sendiri tidak tahu pasti. Pokokrnya mereka tidak menyukai Claudia.

Donna pulang dengan setengah bagian kepalanya dicukur gundul. Ia mendapatkan ratusan jahitan, beberapa diantaranya tampak di keningnya, dan antara mata kiri dan alisnya. Untuk sementara waktu ia mengenakan topi dari perban. Akhirnya ia meminta tetangga kami memotong sisa rambutnya. Rambut itu lengket oleh darah sehingga menjadi gimbal. Tetangga kami orang yang sangat baik. Ia mencarikan wig dari rambut asli manusia untuk dipakai Donna, mirip sekali dengan rambut Donna yang asli.

Donna merayakan ulantahunnya yang keenambelas dan kembali bersekolah. Aku tak tahi dari mana datangnya orang-orang jahat, dan aku tak tahu mengapa mereka ada, tapi yang jelas mereka memang ada. Di kelas Donna ada seorang murid perempuan yang banyak omong, mementingkan diri sendiri, yang sangat senang menyakiti hati Donna. Ia suka duduk di bangku di belakang Donna dan pelan-pelan menarik wig Donna. Ia berkata pelan, "Hei, Wiggy, yuk kita lihat luka di kepalamu." Lalu ia tertawa.

Donna tidak pernah menceritakan si anak jahat itu kepada siapapun sampai akhirnya ia cerita pada Claudia. Claudia seing sekelas dengan Donna, dan sejak itu selalu melindungi Donna. Setiap kali anak itu mendekati donna, Claudia selalu berusaha berada dekat Donna. Penampilan Claudia memang bisa membuat ciut anak-anak lain, bahkan anak jahat sekalipun. Tak ada yang berani mengganggunya. Sayangnya, Claudia tidak selalu bisa berada dekat Donna, sehingga gangguan tetap saja terjadi.

Pada suatu Jumat malam, Claudia menelepon dan mengajak Donna bermalam dirumahnya, Orangtuaku tidak menginginkan Donna pergi--bukan saja karena mereka tidak menyukai Claudia, tapi juga karena mereka sangat melindungi Donna. Tapi, akhirnya mereka tahu bahwa mereka harus membiarkan Donna pergi, meskipun mereka akan khawarit sepanjang malam.

Ada sesuatu yang akan diperlihatkan Claudia kepada Donna. Ia tahu betapa sedihnya Donna perihal rambutnya. Jadi, Claudia mencukur habis rambut cokelatnya yang panjang dan indah. Keesokan harinya ia mengajak Donna membeli dua wig yang sama modelnya, masing-masing berwarna pirang dan cokelat. Ketika mereka masuk sekolah hari Senin berikutnya, Claudia sudah siap menghadapi anak-anak pengganggu. Dengan memberondongkan kata-kata kasar, Claudia menjelaskan bahwa kalau ada yang mengganggu Donna, mereka akan berhadapan dengannya. Sebentar saja berita ancaman Claudia itu sedah menyebar.

Donna dan Claudia mengenakan wig mereka selama setahun lebih sampai rambut mereka dirasakan sudah tumbuh cukup panjang sehingga mereka bisa melepaskan wig mereka. Setelah Donna siap, berulah mereka ke sekolah tanpa memakai wig lagi. Pada saat itu, rasa percaya diri Donna telah tumbuh, dan ia merasa telah diterima lagi oleh teman-temannya.

Donna lulus SMU. Sekarang ia sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang hebat. Dua puluh delapan tahun telah berlalu, dan ia masih tetap bersahabat dengan Claudia.



------------------------------------------


Gila ya Claudia setia banget jadi sahabat. Walaupun ortu Donna ngga terlalu suka sama dia tapi Claudia gimana yah hm gitudeh ahaha maaf ngga jelas -_-. Udah dulu yaaa postingannya, tangan gue udah keriting nih #curhat.


See ya!


XO,
Prita

9 comments: